A Journey Written in Raindrops
Jadi, tulisan ku kali ini tentang Jurnal Pertamaku di Semester Pertama sebagai Mahasiswi Sastra Inggris.
Jurnal ini akan dimulai dari keputusanku di umur 23 tahun untuk akhirnya memulai mewujudkan mimpi yang sudah amat lama aku sembunyikan dari dunia. Yaitu menjadi Mahasiswa Sastra Inggris. Sampai saat aku menulis ini pun aku masih merasa seperti benar-benar di alam mimpi.
Setelah bertahun-tahun aku mempertimbangkan satu dan hal lain yang sangat sulit untuk aku pilih dan putuskan. Setelah melewati berbagai pemikiran-pemikiran yang berperang di kepala ku setiap pagi seraya berputarnya roda motor yang membawa ku pada tempat kerja.
5 tahun sudah aku lulus dari Sekolah Menengah Kejuruan di bidang kesehatan. Salah satu sumbu dari peperangan yang terjadi di dalam kepala ku selama sepanjang tahun. Dalam memilih untuk melanjutkan pendidikan sesuai dengan keahlian ku di bidang kesehatan atau memulai pendidikan dengan ketertarikan ku dalam Bahasa Inggris dan Kesastraan.
Bagiku keduanya adalah pilihan yang penting, namun sangat sulit aku putuskan karena aku harus melepas salah satunya. Yang sebenarnya aku menyukai kedua bidang tersebut. Namun aku tidak bisa lari dari pilihan itu, aku harus benar-benar mimilih dan melepaskan.
Oleh karena itu, tiba lah aku di sini. Secara resmi menjadi Mahasiswa Sastra Inggris itu. Akhirnya, aku harus melepas impian ku dalam belajar di bidang kesehatan untuk sementara. Aku kembali menerjang arus itu, aku kembali melawan harapan orang-orang yang memberi saran untuk melanjutkan keahlianku di bidang kesehatan.
Tidak sedikit dari mereka bertanya dan menanggapi keputusanku ini. “Kenapa tidak lanjut di bidang kesehatan?” “Sayang sekali, padahal bidang kerja kamu gak sesuai sama jurusan yang kamu ambil” dan sebagainya. Tapi aku hanya fokus oleh pilihanku, aku hanya akan kuat menggenggam apa yang sudah aku pilih. Aku akan tetap menerjang arusnya, aku akan teguh oleh apa yang sudah aku mulai.
Aku selalu sadar bahwa setiap hari aku sedang belajar, aku sadar bahwa setiap hari aku sedang dibentuk, aku juga sadar bahwa setiap hari aku merasa hidup. Aku sama sekali tidak mengeluh berat di masa itu. Selain itu, aku memiliki teman yang sangat mendukung ku dalam perjalanan ke kampus, dan aku hampir tidak pernah merasa energi ku turun ketika aku sampai di kelas, aku selalu berantusias meski kadang rasa kantuk menyerang di sela-sela proses belajar itu. Tapi aku masih tetap menikmatinya tanpa penyesalan.
Di semester yang pertama ini, aku seperti menemukan diriku sendiri, Meski perjalanannya tidak mulus dan mudah, aku masih tetap bisa melawatinya dengan hati yang lapang, hati yang penuh antusias, hati yang gembira. Aku berhasil mendukung diriku sendiri, aku berhasil membawa diriku untuk menyusuri ujung arus yang ku terjang itu.
Dan aku akan terus menerjangnya.


Komentar
Posting Komentar